Sabtu, 01 Desember 2012

SIKAP DAN PERILAKU



PENGERTIAN SIKAP



 Sikap (attitude) merupakan salah satu pokok bahasan yang penting dalam psikologi sosial, para pakar tidak selalu sepakat tentang difisinya. Sarwono (1997) mengemukakan beberapa pengertian sikap.

 Attitude is a favourable or unfavourable evaluative reaction toward somethingor someone, exhibited in one’s belief,fellings or ontended behavior (meyers,1996).
An attitude is a disposition to responds favourably or unfavourably to an object, person, institution or event (azjeen, 1988).
Attitude is a pychological tendency that is expressed by evaluating a perticular entity with some degree of favor or disfavor (eagly & chaiken,1992).

Sikap dapat didefinisikan sebagai posisi yang di ambil dan dihayati seseorang terhadap benda,masalah atau lembaga . Beberapa sikap bersifat abstrak, misalnya sikap terhadap demokrasi. Sikap-sikap lain dapat bersifat impersonal, misalnya sikap terhadap ganja itu jelek. Akan tetapi sikap yang paling penting adalah sikap terhadap orang lain (Soekaji, Sutarlinah, 1986).

Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang, peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya. Sebgai suatu  evaluasi dari hal yang telah di alami, sikap merupakan posisi yang tidak netral. Sikap itu pun bervariasi dari segi intensitasnya, bisa rendah sedang atau banyak.

Dari berbagai definisi tampak bahwa ciri khas dari sikap adalah sbg berikut.:
1. Mempunyai objek tertentu(orang,perilaku,konsep,situasi,dan benda)
2. Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju,suka atau tidak suka) (Sarwono,S. 1997)

Untuk membedakan sikap dari sifat marilah kita lihat perbedaan yang di buat oleh ajzen (termuat dalam Sarwono,S 1997) berikut ini:

Sikap (attitude)
Sifat ( traid )
Laten
Tidak tampak dari luar
Mengarahkan perilaku
Mengarahkan perilaku
Ada unsur penilaian terhadap objek sikap
Tidak selalu menilai, cenderung konsisten pada berbagai situasi, tidak tergantung penilaian sesaat
Lebih bias merubah/menyesuaikan
Menolak perubahan

Sikap dapat dijelaskan melalui model-model berikut ini :
1. Model satu dimensi ( One-Dimensional Model )
Model ini merupakan model yang paling sederhana dalam menjelaskan sikap secara langsung,dalam arti suka atau tidak suka terhadap objek tertentu.

2. Model tiga komponen (Three-Componen Model )
Model ini lebih berkembang daripada model pertama. Model ini menjelaskan sikap dalam jangkauan yang lebih luas berdasarkan pengalaman psikologi. Disini dijelaskan, sikap menyangkut 3 dimensi, yaitu :
1. pengalaman kognitif (seperti kepercayaan)
2. pengalaman efektif (emosi)
3. perilaku (pilihan dan tindakan)

ASPEK-ASPEK SIKAP
Para ahli psikologi social menyatakan bahwa sikap terdiri dari tiga bagian:
1. kognitif
2. afektif
3. konatif

PENGUKURAN SIKAP
1. Skala thustone
L.L THUSTONE (1887-1955) mengembangkan pendekatan statistic pertama dalam mengukur sikap. Dalam skala ini seorang peneliti mengembangkan serangkaian pernyataan tentang sikap objek. Setiap penrnyataan kemudian disusun kedalam urutan secara numeric menurut skala positif negative.

2. Skala likert
Skala ini lebih sering digunakan daripada skala Thustone di atas. Rensis Likert (1903-1981) mengembangkan beberapa sikap.

3. Skala Semantic Differential
Tehnik pengukuran sikap ini datang dari Osgood,suci, dan Tannenbaum(1957). Sebagaimana di jelaskan Sarwono.S(1997), dasar teorinya adalah bahwa sikap orang terhadap suatu objek dapat di ketahui  jika kita mengetahui konotasi(arti psikologi) dari kata yang melambangkan objek sikap itu.

PEMBENTUKAN SIKAP
1. Pendekatan belajar (learning approaches)
a. Asosiasi
1) Classical Conditioning
Belajar untuk membuat respons yang sama pada stimulasi yang diasosiasikan pada stimulus sebelumnya itulah yang di sebut sebagai classical conditioning.
2) More Exposure
Pembentukan sikap yang paling jelas dapat di bentuk lewat pengalaman yang berulang-ulang dengan objek sikap, seperti manusia atau tampilan lingkungan yang sering kali di temui. Menurut psikolog Robert Zajonc, terpaan yang berulang-ulang itu biasanya akan menghasilkan perasaan positif.

b. Peneguhan(reinforcement)
1. pengaruh keluarga
2. kelompok bermain dan kelompok acuan


2. Pendekatan Konsistensi Kognitif ( Cognitive Consistency )
Hubungan inkonsisten antara kognisi di beri nama berbeda-beda oleh para ahli.
a. Fritz Heider menamakan “ketidakseimbangan kognitif” (cognitive imbalance)
b. Newcomb menamakannya “asimetri” (Asymetry)
c. Osgood & Tannaenbaum menamakan “ ketidakselarasan” (ingongruence)
d. Festinger menamakannya “disonansi” (dissonance) hanya dapat digunakan dalm situasi-situasi tertentu). Oleh karenanya, disini yang akan di jelaskan adalah teori Fritz Heider, Newcomb, dan Festinger.


a. Teori keseimbangan atau teori P-O-X
Teoro Fritz adalah teori pertama dalam bidang ini sehingga banyak dijadikan dasar oleh teori lainnya.Menurut teori ini , elemen kognisi seperti sikap akan seimbnag saat sesuai satu sama lain.teori ini berpangkal pada perasaan (P) terhadap orang lain (O) dan hal lain (X) yang ada kaitannya dengan O.X dalam hal ini tidak hanya berupa benda mati,tetapi bisa berupa org lain. Ketiganya (P,O,dan X) membentuk suatu kesatuan. Jika unit itu mempunyai sikap yang samadi semua seginya, maka timbullah keadaan yang seimbang. Akan tetapi bila unit itu mempunyai segi-segi yang tidak bisa berjalan bersama-sama maka terjadilah ketegangan (tension) dan timbul tekanan yg mendorong untuk mengubah organisasi kognitif hingga tercapai keadaan seimbnag (balance)

b. Teori A-B-X dari Newcomb
Menurut Newcomb, ada hokum-hukum yang mengatur hubungan keprcayaan dan sikap yang ada pada seseorang. Beberapa kombinasi kepercayaan dan sikap itu ada yang tidak stabil yang mendorong orang yg bersangkutan untuk menuju ke situasi yang lebih stabil. Sampai disini teori Newcomb tidak berbeda denganteori Heider. Namaun newcomb menambahkan factor komunikasi antarindividu dan hubungan-hubungan dalam kelompok. Komunikasilah yang memungkinkan orang untuk saling berorientasi kepada suatu objek tertentu. Dalam teori ini dikenal istilah tindak komunikatif , yaitu pemindahan informasi dari sumberke penerima. Infomasi terdiri dari rangsang-rangsang yang di asosiasikan dengan benda,keadaan, sifat atau peristiwa yg memungkinkan seseorang membedakannya dr hal-hal lain. Tindakan komunikatif yang paling sederhana adalah seorang (A) menyampaikan informasi kepada si (B) tentang sesuatu (X).

Konsep lainnya adalah orientasi,yaitu kebiasaan seseorang untuk selalu mengkaitkan diri sendiri dengan orang lain atau objek disekitarnya. Orientasi ini dapat disamakan artinya dengan “sikap”. Namun Newcomb membedakan dua macam orientasi,yaitu atraksi (attraction) dan sikap (attitude) itu sendiri.
Atraksi adalah orientasi terhadap orang lain sedangkan sikap adalh orientasi terhadap objek. Menurut newcopmb, ada dua macam system orientasi , yaitu sebagai berikut,
a) Sitem individual ( dalam diri sendiri )
b) System kelompok ( menyangkut hubungan antar individu )

Dalam kedua system tersebut minimal diperlukan komponen-komponen berikut.
1. Sikap A terhadap X
2. Atraksi A terhadap B
3. Sikap B terhadap X
4. Atraksi B terhadap A

Newcomb membedakan dua macam sikap, yaitu menyukai(Favourable) dan tidak menyukai (unfaurable).Hal yang sama berlaku untuk atraksi. Jika sikap / atraksi dari b sama. Terjadilah keadaan simetris.

c. Terori disonansi kognitif (dissonance cognitive theory) dari Leon Festinger
Teori ini dikembangkan oleh Leon Festinger dan merupakan teori konsistensi yang dimiliki seseorang. Teori ini banyak melihat hubungan yang tidak konsistensi yang dimiliki seseorang. Teori ini banyak melihat hubungan yang tidak konsisten antara sikap dengan perilaku. Disonansi merupakan suatu pengalaman yang kurang menyenangkan yang timbul dari ketidakserasian ( disharmony) antar aelemen-elemen kognitif seperti sikap.

Menurut festinger, disonansi dapat terjadi dari beberapa sumber ( Sarwono,1991)
A. Inkosistensi logis.Contohnya keyakinan bahwa air membeku pada 0 c,secara logis tidak konsistendengan keyakinan bahawa es balok tidak akan mencair pada suhu 40 c
B. Nilai-nilai budaya. Kebudayaan sering kali menentukan apa disonan dan apa yg konsonan.contohnya, makan dengan tangan di pesta resmi eropamenimbulkan disonansi,dan makan dengan tangan di warteg di Jakarta adalah yg konsonan.
C. Pendapat umum. Disonansi dapat terjadi karna suatu pendapat di anut orang banyak dipaksakan kepada pendapat perorangan.
D. Pengalaman masa lalu. Contohnya, berdiri di hujan, tetapi tidak basah. Keadaan ini dosinan karena tidak sesuai pengalaman masalalu.

3. Pendekatan Motivasional
Menurut weber, pendekatan motivasional(disebut juga pendekatan intensif) mengasumsikan bahwa individu menilai untung rugi dalam membuat respons tertentu, termasuk memelihara dan mengespresikan sikap tertentu, termasuk memeliharadan mengekspresikan sikap tertentu.

a. Evaluation models
Model ini melihat pembentukn sikap sebagai suatu hal yang di motivasi oleh keinginanuntuk memaksimalkan hal yang positif. Satu model melihat kepentingan evaluasi yang sebjektif tentang sikap objek dan yang lain menekankan pada nilai yang diharapkan. Termasuk dalam model ini adalah teori respons kognitif dan teori Expectancy Value.

b. Elaboration versus Hersus Heuristic Processing.
Pembentukan sikap bisa juga di bentuk dari pentingnya objek sikap dan keadaan dimana opini seseorang terbentuk.beberapa ilmuan membedakan antara pembentukan sikap sebagai hasil elaborasi atau proses kognitifyang sistematis dengan mereka yang memperolehnya sbagai hasil dari proses perifal atau heuristic.

KETERKAITAN SIKAP DAN PERILAKU
sikap terdiri dari tiga domain yakni ABC (A=affective, perasaan, b= behavior,perilaku C= cognitive, kesadaran).

A. KESESUAIAN ANTARA SIKAP DAN PERILAKU
Menurut Triandis(1982), ketidaksesuaian antara perilku dan sikap disebabkan karena 40faktor (selain sikap) yang terpisah-pisahyang mempengaruhi perilaku. Temuan ini tidaklah baru karena adanya ketidaksesuaiian antara sikap dan perilaku sudah diketahui para pakar sejak lama.

B. SIKAP SESUAI DENGAN PERILAKU
1. perilakuyang spesifik
2. potensi sikap
3. penonjolan sikap

C. PERILAKU DAPAT MEMPENGARUHI SIKAP
Metode foot-in-the door Effect Salah satu metode terkenal bagaimana perilaku dapat mempengaruhi sikap adalah yang di kenal sebagai The foot-in-the door Effect. Studi tentang pengaruh interpersonal telah menjelaskan bahwa manusia lebih cenderung untuk menyetujui atau menerima permintaan yang besar jika sebelumnya mereka telah setuju pada permintaanyang besar jika sebelumnya mereka telah setuju pada permintaan yang lebih kecil dan berhubungan. Kecenderungan ini , the foot-in-the door Effect , terjadi karena kesepakatan pertama (perilaku) berujung pada pembentukan sikap yang lebih bisa di terima, yang nantinya meningkatkan kesesuaian dengan permintaan kedua.

Metode The Low-ball Technique Salah satu turunan teknik the foot in the door adalah the low ball technique(tehnik bola pendek). Tehnik ini merupakan salah satu strategi persuasive yang sering digunakan seorang penjual. Tehnik ini sering di pakai oleh para dealermobil.

Tiga pendekatan sikap menurut myers (sebagaimana dijelaskan sarwono, 1997)
1. Teori pernyataan diri( self presentation theory )
2. Disonansi kognitif
3. Persepsi diri

KOMUNIKASI PERSUASIF
komponen komunikasi persuasive yang mempengaruhi sikap:
1. SUMBER
a. kreadibilitas
b. daya tarik

Terdapat tiga macam daya tarik yang membuat seseorang cenderung disukai dan lebih persuasive, yaitu sebagai berikut.:
a. Penampilan fisik
b. Power ( kekuasaan)
c. Kesamaan dengan penerima pesan
2. PESAN
a. posisi
1) Penerimaan dan penolakan.
2) Kredibilitas dan perbedaan (credibility and Discrepancy).

b. isi pesan
1) kesederhadaan
2) daya tarik emosional
3) kepentingan pribadi
4) penyajian

Ada beberapa dampak dari penyajian pesan, yaitu sebagai berikut.:
a) Primacy and recency effect
b) The Sleeper Effect
c) Keseimbangan.

c. channel/saluran
1. media massa
2. kontak personal
3. two step communication (komunikasi dua tahap).

3. AUDIENCE
a. attention (perhatian)
b. karaktersitik personal
Beberapa hal dari karakteristik pribadi yang mempengaruhi individu dalam menerima pesan, yaitu sebagai berikut:
-          Umur
-          Kebutuhan

4. EFEK SITUASIONAL
a. proses yang mempengaruhi sikap
1. Messege density (kerapatan pesan)
2. Repetisi (penglangan)
3. Distraction(gangguan /pengalihperhatian)
b. teori-teori perubahan sikap
1. The elaboration-likelihood model
- Sentral processing(pemrosesan pada hal inti atau pusat)
- Peripheral processing (pemrosessan pada hal pinggir)
2. Self-justification
- dissonance reduction
­- the power of commitment
1. behavior lead to attitude (perilaku menuntun pada sikap)
2. indocements(dorongan atau pancingan)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar